|
Monday, 04 August 2008 |
|

METRO CLUB mempersembahkan: "DELEILAH, Tak Ingin Pulang dari Pesta" [Untuk 18+]
Pada Hari Rabu, 6 Agustus 2008 dan Kamis, 7 Agustus 2008 Pukul 20.00 WIB (pintu ditutup pukul 19.45 WIB) Di Gedung Societeit Militaire - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Jl. Sriwedani No. 1 Yogyakarta HTM: Rp. 10.000,- untuk mahasiswa atau waria Rp. 15.000,- untuk umum Tiketing & pemesanan: Sekretariat FKY – Kompleks TBY Telp. 0274-587712 HP. 0818 0405 4271 (neni) Pemain: Kusuma Ayu, Arum Marischa, Maria Alda Novika, Chaty Claudia, Tika Aurora, Yorra Anastasyatutie, Hana Calista, Githa Veronica, Muhammad AB, Rendra Bagus, Surie Cuwie Inalia, Apriyanti, Wisnu Aji, Jamaluddin Latif, Ani Himawati, Sisilia Asih Mulyani, Alex Suhendra, Guntur Yudho.
Menampilkan lagu-lagu: Mock Me Not | Oh Nina | Melancholic Bitch Penata Musik: Arie Wulu | Pelatih & Arr. Vokal: Panca Sona Aji | Penata Artistik: The Clinkerbells | Stage Manager: Novindra K. Dhiratara | Ass. Sutradara: Rendra Bagus | Pimpinan Produksi: Aniek Rusmawati | Naskah: Puthut EA
Disutradarai oleh: Joned Suryatmoko Teater Musikal DELEILAH adalah acara terakhir dari keseluruhan programa Festival Kesenian Yogyakarta XX 2008, yang telah berlangsung sejak tanggal 7 juni 2008. FKY adalah program Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang rutin digelar setiap tahun. Pertunjukan Teater Musikal DELEILAH didukung oleh: HIVOS People Unlimited |
|
Read more...
|
|
|
Sunday, 23 March 2008 |
|
Deleilah, Tak Ingin Pulang dari Pesta 6-7 Agustus 2008, Gedung Societet Militer (Taman Budaya Yogyakarta) Penulis Naskah: Puthut EA. Sutradara: Joned Suryatmoko Deleilah, tak ingin pulang dari pesta, adalah sebuah pertunjukan teater yang akan menjadi salah satu program kegiatan FKY XX 2008. Dalam pementasan ini kehidupan transseksual sebagai bagian dari realitas jaman hendak dijadikan tema cerita. Dalam khasanah sastra Jawa: serat Centhini, Cebolek, Gatholoco, transseksual telah dipercakapkan secara leluasa sebagai bagian kehidupan yang wajar, sedangkan pada saat ini, transseksual dianggap sebagai perilaku menyimpang dan didiskreditkan. Fenomena transseksual ini nyaris muncul dalam setiap latar budaya, seperti Bissu di Bugis, pemain Ludruk dan Warok di Jawa Timur. Dalam tradisi Jawa transseksualitas adalah sebagian dari kehidupan yang diterima dengan mendua. Sebagian menerima, sedangkan sebagian lain menolaknya dengan sengit. Akan tetapi tradisi itu tetap berjalan dengan caranya sendiri. Sebagai tradisi yang terpinggirkan, seni yang berangkat dengan tema ini akan membawa penonton pada kesadaran-kesadaran baru: sebuah dunia lain, jender ketiga yang terus hidup membayang-bayangi kedua jender utama; laki-laki dan perempuan. Dalam program ini fenomena transseksual itu akan diangkat sebagai tema. Tema akan diaktualisasikan dalam bentuk keikutsertaan para “aktros” (aktris-aktor) dalam pertunjukan. Aktros adalah istilah yang ditunjukkan pada kemenduaan eksistensi fisiologis dan psikologis: sosok yang bertubuh pria dengan attitude keperempuanan. Selain keberadaan aktros sebagai aktualisasi tema, narasi yang disampaikan pun akan bergerak dari soal-soal yang menjadi problem kehidupan kaum aktros ini. Pertunjukan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk melihat para waria itu sebagai seseorang dengan kapasitas sebagai seniman panggung. Program ini bukan semata-mata sebagai tindak kampanye, akan tetapi juga untuk membawa persoalan kewariaan pada tahap selanjutnya yaitu sebuah penerimaan yang tulus atas jender ketiga itu. SINOPSIS: Deleilah, sebuah grup penghibur yang selalu bisa menunjukkan kepiawaian menyanyi dan menari, sedang moncer-moncernya. Grup ini diawaki oleh tiga waria: Rossie, Luna, dan Happy. Keberhasilan grup ini tidak luput dari hasil besutan Dedi, si manajer grup. Dan kelompok ini mendulang sukses di sebuah panggung di dalam sebuah kelab bernama Metro Nite Club, yang dimiliki oleh Brian. Bagi Metro, Deleilah adalah aset, dan bagi Deleilah, Metro adalah panggung yang sempurna, yang mempopulerkan nama grup ini. Metro dan Deleilah, hadir untuk saling melengkapi. |
|
Read more...
|
|
|
Tuesday, 29 April 2008 |
|
7000 orang per hari, target pengunjung Pasar Raya FKY XX 2008
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pasar Raya FKY XX 2008 akan diselenggarakan bersama dua mitra terdekat, yakni; Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta [TBY]. Mengingat dua lokasi tersebut berdampingan maka akses masuk yang menghubungkan dua lokasi tersebut akan dibuka seluasnya untuk penyelenggaraan Pasar Raya sehingga kegiatan-kegiatan dalam rangkaian Pasar Raya dapat berlangsung maksimal secara harmonis dan terintegrasi. |
|
Read more...
|
|
|
Friday, 25 April 2008 |
|
Pasar Raya FKY XX 2008 Siapkan 158 stand Sebanyak 213 stand dipersiapkan oleh Panitia Pasar Raya FKY XX 2008. Stand yang akan didirikan di Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta tersebut ditawarkan dengan harga; Rp.1.500.000,00. Sebagai rangkaian kegiatan Festival Kesenian Yogyakarta XX 2008, Pasar Raya FKY adalah pengganti program yang sebelumnya dikenal sebagai Pasar Seni. Bambang “Toko” Wicaksono, selaku Koordinator Program Pasar Raya, mengatakan bahwa untuk pembelian stand pada bulan April akan diberikan potongan harga sebesar 15%, sedangkan pembelian sampai tanggal 16 Mei potongan harga diberikan sebesar 10%. |
|
Read more...
|
|
|